Di sebuah desa di Sumatera Barat terdapat Balai Pengobatan yang dokter, perawat, serta petugas penjaga pendaftarannya berasal dari Jawa (Pulau Jawa).
Seorang Bapak datang ke Balai Pengobatan tersebut. Si Bapak langsung menuju meja pendaftaran dengan disambut ramah oleh petugas pendaftaran. Terjadilah percakapan seperti berikut:
Petugas : "Selamat sore, Pak"
Bapak : "Selamat sore kembali"
Petugas : "Bapak mau berobat, apa yang dikeluhkan?"
Bapak : "Iyo, Ambo mau barubek"
Petugas : "Nama Bapak?"
Bapak : "Nan kida".
Setelah selesai urusan, bapak tersebut duduk di bangku antri. Satu persatu pasien dipanggil, sampai kemudia terdengar suara petugas pendaftaran menyebut nama "Nan Kida".
Tapi ternyata dengan cueknya bapak tersebut mengacuhkan panggilan petugas pendaftaran.
Pasien terakhir di daftar pendaftaran sudah dipanggil. Dengan menahan rasa sakit bapak tadi mendatangi meja pendaftaran dan bertanya kepada petugas:
Bapak : "Kok, ambo indak diimbau?" (kok, saya tidak dipanggil).
Petugas : "Nama Bapak siapa?"
Bapak : "Sutan Barau"
Petugas : "Oh... tak ada nama Sutan Barau disini, Pak. Yang ada Nan Kida, dari tadi sudah dipanggil tapi tak ada"
Dalam bahasa Minang, nanma (yang terdengar seperti lafal nama) artinya yang mana. Nan kida artinya yang kiri.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
hi mas Yogie...
daku dwi..makasih ya udah komen...
dirimu tukang loenpia juga yak spt mba wiwikwae...
eh..seru juga baca postinganmu yg ini (Nan Kida)..langsung ingat rumah di padang niy...hm..kangen bapak ibu euy...
ditunggu masukannya yak...
owya..dwi lagi...
blog-mu yg satu lagi..nggilani...huehehe...
kaget tadi pas buka..daku milih komen yg disini aja...
sud yak...
Post a Comment