Tuesday, March 18, 2008

Shiratal Mustaqim

Seorang jemaah haji dari Sunda tersesat ketika hendak tawaf mengitari Ka'bah. Ia mencari-cari Masjidil Haram. Mau tanya-tanya ia hanya mengerti bahasa Sunda. Padahal dari tadi tidak dijumpainya orang sekampung.

Alangkah gembiranya orang Sunda itu ketika bertemu dengan jemaah lain yang kulitnya sama. Disangka orang itu sedaerah dengannya. Maka dengan bahasa Sunda yang lancar ia bertanya,

"Punten ka palih mana ka Masjidil Haram?"

Maksudnya menanyakan arah menuju Masjidil Haram.

Tahu-tahu orang yang ditanya bukan orang Sunda. Kulitnya sama, tetapi bahasanya berbeda. Sebab ia orang Jawa tulen yang hanya mengerti bahasa Jawa. Karena itu orang tersebut menggeleng seraya menjawab,

"Lhah, mboten ngertos"

Maksudnya di tidak mengerti apa yang ditanyakan.

Tetapi orang Sunda itu tidak kehabisan akal. Ia berpikir orang Jawa itu toh biasa sembahyang dan pasti mengerti bahasa Jawanya surah Al Fatihah, sebab surah itu wajib dibaca setiap kali sembahyang.

Ia pun lantas berkata, "Punten, Ihdina Masjidil Haram".

(Ihdina adalah salah satu kalimat dalam surah Al Fatihah yang maknanya berilah kami petunjuk).

Betul juga orang Jawa itu paham maksudnya. Maka sambil tertawa orang itu menjawab, "Shiratal Mustaqim".

(Ini juga terdapat dalam surah Al Fatihah yang berarti jalan lurus).

Orang Sunda itu dengan suka cita mengucapkan terima kasih (tentu masih dalam bahasa Sunda), lalu ia berjalan lurus ke depan. Beberapa langkah di muka ia agak kebingungan. Yang lurus jalannya kecil, sedangkan yang lebar jalannya agak ke sebelah kiri. Jadi ia menempuh jalan agak ke kiri itu karena lebih lebar.

Dari kejauhan orang Jawa tadi berteriak, "Walladlallin Mustaqim" (jangan tersesat lurus saja)

Dengan peringatan terakhir itu, orang Sunda tersebut berhasil mencapai tempat yang dituju tanpa tersesat lagi.

1 comment:

Anonymous said...

edan iki ..
waka akakaka