Wednesday, March 19, 2008

Nan Kida

Di sebuah desa di Sumatera Barat terdapat Balai Pengobatan yang dokter, perawat, serta petugas penjaga pendaftarannya berasal dari Jawa (Pulau Jawa).

Seorang Bapak datang ke Balai Pengobatan tersebut. Si Bapak langsung menuju meja pendaftaran dengan disambut ramah oleh petugas pendaftaran. Terjadilah percakapan seperti berikut:

Petugas : "Selamat sore, Pak"
Bapak : "Selamat sore kembali"
Petugas : "Bapak mau berobat, apa yang dikeluhkan?"
Bapak : "Iyo, Ambo mau barubek"
Petugas : "Nama Bapak?"
Bapak : "Nan kida".

Setelah selesai urusan, bapak tersebut duduk di bangku antri. Satu persatu pasien dipanggil, sampai kemudia terdengar suara petugas pendaftaran menyebut nama "Nan Kida".

Tapi ternyata dengan cueknya bapak tersebut mengacuhkan panggilan petugas pendaftaran.

Pasien terakhir di daftar pendaftaran sudah dipanggil. Dengan menahan rasa sakit bapak tadi mendatangi meja pendaftaran dan bertanya kepada petugas:

Bapak : "Kok, ambo indak diimbau?" (kok, saya tidak dipanggil).
Petugas : "Nama Bapak siapa?"
Bapak : "Sutan Barau"
Petugas : "Oh... tak ada nama Sutan Barau disini, Pak. Yang ada Nan Kida, dari tadi sudah dipanggil tapi tak ada"

Dalam bahasa Minang, nanma (yang terdengar seperti lafal nama) artinya yang mana. Nan kida artinya yang kiri.

Mangga

Aku mempunyai sahabat dari Jakarta yang datang berkunjung ke Tasik. Dengan semangat ia minta diajari bahasa Sunda. Kata pertama yang ia pahami adalah "punten" dan "mangga".

Suatu hari kami pergi jalan-jalan dengan menggunakan jasa angkot (angkutan kota) karena aku tidak mempunyai kendaraan pribadi. Waktu di angkot, seperti biasa kondektur (kenek) meminta ongkos kepada penumpang.

"Punteh, Teh" kata kondektur pada sahabatku itu.

"Mangga" jawab sahabatku dengan sopan.

Ketika sahabatku menjawab "mangga" semua penumpang tertawa, termasuk aku. Tapi aku langsung menyenggol sahabatku dan menjelaskan maksud si kondektur sambil berbisik. Sahabatku malu sekali, lalu ia minta maaf sambil menyerahkan uang.

Tuesday, March 18, 2008

Shiratal Mustaqim

Seorang jemaah haji dari Sunda tersesat ketika hendak tawaf mengitari Ka'bah. Ia mencari-cari Masjidil Haram. Mau tanya-tanya ia hanya mengerti bahasa Sunda. Padahal dari tadi tidak dijumpainya orang sekampung.

Alangkah gembiranya orang Sunda itu ketika bertemu dengan jemaah lain yang kulitnya sama. Disangka orang itu sedaerah dengannya. Maka dengan bahasa Sunda yang lancar ia bertanya,

"Punten ka palih mana ka Masjidil Haram?"

Maksudnya menanyakan arah menuju Masjidil Haram.

Tahu-tahu orang yang ditanya bukan orang Sunda. Kulitnya sama, tetapi bahasanya berbeda. Sebab ia orang Jawa tulen yang hanya mengerti bahasa Jawa. Karena itu orang tersebut menggeleng seraya menjawab,

"Lhah, mboten ngertos"

Maksudnya di tidak mengerti apa yang ditanyakan.

Tetapi orang Sunda itu tidak kehabisan akal. Ia berpikir orang Jawa itu toh biasa sembahyang dan pasti mengerti bahasa Jawanya surah Al Fatihah, sebab surah itu wajib dibaca setiap kali sembahyang.

Ia pun lantas berkata, "Punten, Ihdina Masjidil Haram".

(Ihdina adalah salah satu kalimat dalam surah Al Fatihah yang maknanya berilah kami petunjuk).

Betul juga orang Jawa itu paham maksudnya. Maka sambil tertawa orang itu menjawab, "Shiratal Mustaqim".

(Ini juga terdapat dalam surah Al Fatihah yang berarti jalan lurus).

Orang Sunda itu dengan suka cita mengucapkan terima kasih (tentu masih dalam bahasa Sunda), lalu ia berjalan lurus ke depan. Beberapa langkah di muka ia agak kebingungan. Yang lurus jalannya kecil, sedangkan yang lebar jalannya agak ke sebelah kiri. Jadi ia menempuh jalan agak ke kiri itu karena lebih lebar.

Dari kejauhan orang Jawa tadi berteriak, "Walladlallin Mustaqim" (jangan tersesat lurus saja)

Dengan peringatan terakhir itu, orang Sunda tersebut berhasil mencapai tempat yang dituju tanpa tersesat lagi.

Sopir Taksi Baru

Setelah berjalan sekian lama, penumpang menepuk pundak sopir taksi untuk menanyakan sesuatu. Tapi reaksinya sungguh tak terduga, sopir taksi begitu terkejutnya sampai tak sengaja menginjak gas lebih dalam dan hampir saja menabrak mobil lain.

Akhirnya ia bisa menguasai kemudi dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

"Tolong, jangan sekali-kali melakukan itu lagi," kata sopir taksi dengan wajah pucat dan menahan marah.

"Maaf, saya tak bermaksud mengejutkan. Saya tak mengira kalau menyentuh pundak saja bisa begitu mengejutkan Bapak,"

"Persoalannya begini, ini hari pertama saya jadi sopir taksi. Bapak juga merupakan penumpang pertama."

"Oh begitu. Terus kok bisa kaget begitu?"

"Sebelumnya saya adalah sopir mobil jenazah," jelas sopir taksi.

Jangan, Bang!

Seorang anak SD ditendang, dimarahi, dipukul oleh seorang pemuda. Setiap anak Batak itu dipukul, ia bilang, "Ulang! Ulang! Ulang!". Mendengar itu sang pemuda semakin marah kepada anak kecil tadi. Namun setiap ia dipukul, ia tetap bilang, "Ulang, ulang, Bang!".

Beberapa menit kemudian seorang pemuda datang dan langsung bertanya kepada anak kecil itu, kenapa ia dipukul terus. Anak itu menjawab,

"Saya tidak sengaja melemparkan jambu, lalu kena abang itu yang kebetulan lewat. Namun ketika ia memukul saya, saya bilang ulang, ulang Bang. Ia malah terus memukul saya".

Si pemuda yang datang belakangan menjadi penengah dan menerangkan kepada pemuda pertama bahwa anak kecil tadi bilang,

"Jangan, jangan, Bang!"

Ulang dalam bahasa Batak Mandailing berarti "Jangan, Bang".

Ikan

Masyarakat Buton mempunyai keunikan dalam pengucapan kata-kata yang mempunyai akhiran "n". Mereka biasanya tidak menyebut secara lengkap kata-kata yang berakhiran "n" tersebut, seperti kata makan menjadi maka. Sementara itu, masyarakat Makassar juga mempunyai keunikan tersendiri. Mereka menambah kata-kata yang berakhiran "n" dengan "g" seperti makan menjadi makang.

Alkisah, seorang nelayan asal Pulau Buton menjual ikannya di sebuah pulau tempat berkumpul pedagang-pedagang dari berbagai daerah. Sambil berteriak "Ika! Ika! Ika!" ia menawarkan dagangannya. Saat itu lewatlah orang Makassar yang kebetulan hendak membeli ikan. Ia menghampiri penjual ikan itu dan bertanya, "Ikangnya berapa, Pak?"

Orang Buton yang memang sedang kesal karena dagangannya dari tadi belum laku merasa diejek. Tetapi dengan sabar ia berkata, "Kita jualan ika, Pak. Bukan ikang."

Sekarang giliran orang Makassar merasa diolok-olok. "Saya memang orang baru di sini, tapi saya tau ini ikang! Bukan ika seperti Bapak sebut tadi," kata orang Makassar.

Tetapi orang Buton berkeras mengatakan itu ika, bukan ikang. Karena merasa saling dipermainkan, kedua orang tersebut berkelahi sampai akhirnya dipisahkan oleh masyarakat setempat. Mereka berdua sepakat bahwa kasus ini harus dibawa ke pemimpin negara yang konon arif bijaksana berasal dari Pulau Jawa.

Sesampai di Istana Negara, orang Buton langsung mengatakan kepada pemimpin negara mereka. "Bapak Presiden, ini saya membawa ika, tetapi orang itu bilang ikang."

Di depan presiden yang orang Jawa itu mereka bertengkar, dan saling berbalasan:

"Ika!"
"Ikang!"
"Ika!"
"Ikang!"

Akhirnya presiden berkata, "Saudara-saudaraku, ini bukan ika ataupun ikang, seperti yang saudara-saudara katakan."

Dengan tenang ia berkata, "Ini adalah iken!"

Satede!

Seorang pria Madura ikut tes masuk akademi pariwisata. Pada tes awal, orang Madura ini lolos. Tetapi ketika sampai tes terakhir, yaitu tes bahasa Inggris, ia gagal. Sebabnya sepele, seperti tampak dalam wawancara berikut ini.

+ Ayo sebutkan hari Senin dalam bahasa Inggris!
- Monday (dengan logat Maduranya yang kental)

+ Kalo hari Selasa?
- Tuesday

Hal ini berlangsung terus sampai...

+ Kalo hari Sabtu apa?
- Satede! (maksudnya Saturday), dengan logat khas Madura, seperti layaknya tukang sate.

Naiklah, Din

Sebenarnya saya adalah seorang pendatang di Riau. Suatu hari, sepulang dari sekolah saya mampir ke rumah Herman, teman sekelas saya yang bersuku Melayu. Sesampainya di rumah Herman, dengan ramah ibu Herman menjawab salam dan berkata,

"Naiklah Din ke rumah."

Ketiga kawan saya masuk dan dengan tenang duduk di ruang tamu. Tetapi saya masih celingukan di depan pintu. Naik, apa maksudnya? Apakah saya disuruh naik ke atap? Rumah Herman juga tidak berpanggung yang otomatis tidak memakai tangga. Atau....

Saat saya bingung itulah Herman mengulangi perkataan ibunya,

"Naiklah, Din."

"Naik kemana, Man?" tanya saya bertambah bingung.

"Masuk, Din" kata ketiga kawan saya hampir bersamaan.

Oh, begitu..

Kamar Mayat

Waktu baru datang ke Bandung, saya sempat terkaget-kaget. Suatu hari, saya pergi ke Jalan Sukajadi dengan kendaraan umum. Karena belum paham benar, saya bertanya kepada kenek,

"Di mana saya harus turun?"

"Di kamar mayat.." Jawabnya kalem

Tentu saja saya kaget, sementara orang yang duduk di depan saya tersenyum melihat reaksi saya. Sebenarnya yang dimaksud kamar mayat itu adalah perhentian kendaraan umum nonbus yang letaknya di ujung Jalan Eyckman. Tempat ini memang persis di depan kamar mati RSU Dr. Hasan Sadikin Bandung.

Monday, March 17, 2008

Ayo, Main ke Lamin Saya!

Dua orang pemuda dari Jawa datang ke Kalimantan untuk mengunjungi teman lamanya. Sesampainya di Tenggarong, Kalimantan Timur, mereka berkenalan dengan seorang wanita Dayak. Setelah mengobrol ngalor-ngidul, wanita itu berkata kepada kedua pemuda tersebut,

"Ayo main ke lamin saya!"

Dengan perasaan tidak karuan, kedua pemuda itu mengikuti wanita tersebut. Setelah sampai di tempat tujuan, wanita itu berkata,

"Ini lamin saya."

Ternyata yang dimaksud wanita itu adalah rumahnya. Kedua pemuda itu pun tersenyum malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Dalam bahasa Dayak, lamin memang berarti rumah.

Awal Mula

Bahasa adalah sebuah syarat dalam berkomunikasi. Komunikasi yang baik harus ditunjang dengan saling memahami bahasa yang digunakan.

Ucapan, gerakan, dan tulisan bisa mencerminkan bahasa apa yang digunakan. Media yang digunakan juga sudah beragam, dari mulut hingga kertas bisa menampung alat komunikasi.

Indonesia yang memiliki ragam bahasa daerah, suku yang beraneka, kebiasaan dan adat istiadat yang menarik, memungkinkan menimbulkan suatu kejadian aneh, lucu, tak terduga. Apabila pemilik dari berbagai keragaman budaya itu saling bertemu dan berkomunikasi didalam suatu lokasi.

Isi postingan ini merupakan kumpulan dari buku dan cerita di berbagai sumber. Seandainya ada isi postingan yang menyinggung, harap jangan dimasukkan ke hati, ikuti saja dengan riang dan jadikan penghibur dikala kesibukan rutinitas kerja sehari-hari.