Tuesday, March 18, 2008

Ikan

Masyarakat Buton mempunyai keunikan dalam pengucapan kata-kata yang mempunyai akhiran "n". Mereka biasanya tidak menyebut secara lengkap kata-kata yang berakhiran "n" tersebut, seperti kata makan menjadi maka. Sementara itu, masyarakat Makassar juga mempunyai keunikan tersendiri. Mereka menambah kata-kata yang berakhiran "n" dengan "g" seperti makan menjadi makang.

Alkisah, seorang nelayan asal Pulau Buton menjual ikannya di sebuah pulau tempat berkumpul pedagang-pedagang dari berbagai daerah. Sambil berteriak "Ika! Ika! Ika!" ia menawarkan dagangannya. Saat itu lewatlah orang Makassar yang kebetulan hendak membeli ikan. Ia menghampiri penjual ikan itu dan bertanya, "Ikangnya berapa, Pak?"

Orang Buton yang memang sedang kesal karena dagangannya dari tadi belum laku merasa diejek. Tetapi dengan sabar ia berkata, "Kita jualan ika, Pak. Bukan ikang."

Sekarang giliran orang Makassar merasa diolok-olok. "Saya memang orang baru di sini, tapi saya tau ini ikang! Bukan ika seperti Bapak sebut tadi," kata orang Makassar.

Tetapi orang Buton berkeras mengatakan itu ika, bukan ikang. Karena merasa saling dipermainkan, kedua orang tersebut berkelahi sampai akhirnya dipisahkan oleh masyarakat setempat. Mereka berdua sepakat bahwa kasus ini harus dibawa ke pemimpin negara yang konon arif bijaksana berasal dari Pulau Jawa.

Sesampai di Istana Negara, orang Buton langsung mengatakan kepada pemimpin negara mereka. "Bapak Presiden, ini saya membawa ika, tetapi orang itu bilang ikang."

Di depan presiden yang orang Jawa itu mereka bertengkar, dan saling berbalasan:

"Ika!"
"Ikang!"
"Ika!"
"Ikang!"

Akhirnya presiden berkata, "Saudara-saudaraku, ini bukan ika ataupun ikang, seperti yang saudara-saudara katakan."

Dengan tenang ia berkata, "Ini adalah iken!"

No comments: