Tuesday, March 18, 2008

Naiklah, Din

Sebenarnya saya adalah seorang pendatang di Riau. Suatu hari, sepulang dari sekolah saya mampir ke rumah Herman, teman sekelas saya yang bersuku Melayu. Sesampainya di rumah Herman, dengan ramah ibu Herman menjawab salam dan berkata,

"Naiklah Din ke rumah."

Ketiga kawan saya masuk dan dengan tenang duduk di ruang tamu. Tetapi saya masih celingukan di depan pintu. Naik, apa maksudnya? Apakah saya disuruh naik ke atap? Rumah Herman juga tidak berpanggung yang otomatis tidak memakai tangga. Atau....

Saat saya bingung itulah Herman mengulangi perkataan ibunya,

"Naiklah, Din."

"Naik kemana, Man?" tanya saya bertambah bingung.

"Masuk, Din" kata ketiga kawan saya hampir bersamaan.

Oh, begitu..

No comments: